1. Kota Tua Lasem, Jawa Tengah
Dikenal sebagai “Tiongkok Kecil” di pesisir utara Jawa, Lasem adalah kota yang sarat sejarah Peranakan. Di sini kamu bisa menemukan rumah-rumah kuno dengan arsitektur campuran Jawa-Tionghoa, kelenteng tua seperti Cu An Kiong (didirikan 1477), serta batik Lasem yang khas dengan motif naga, burung hong, dan merah menyala. Banyak komunitas lokal juga membuka tur sejarah dan workshop batik.
2. Museum Peranakan Tionghoa, TMII – Jakarta
Museum ini menyajikan sejarah panjang dan kekayaan budaya Peranakan Tionghoa dari berbagai daerah. Koleksinya mencakup kebaya encim, perabotan antik, altar leluhur, dan replika rumah Peranakan. Penjelasannya lengkap, cocok untuk wisata edukatif.
3. Kawasan Pecinan Semarang, Jawa Tengah
Di kawasan ini kamu bisa berjalan kaki menyusuri gang sempit berisi kelenteng, toko obat, dan rumah tua. Klenteng Sam Poo Kong yang legendaris (tempat mendaratnya Laksamana Cheng Ho) juga berada tak jauh dari sini. Suasana khas malam hari dengan lampion dan kuliner jalanan membuat pengalaman makin autentik.
4. Kota Singkawang, Kalimantan Barat
Kota ini punya populasi Tionghoa terbesar di Indonesia secara persentase. Budaya Peranakan masih sangat hidup di sini, terutama saat Imlek dan Cap Go Meh. Singkawang juga punya banyak rumah tua bergaya Tionghoa, serta kuliner khas seperti choi pan dan bakcang.
5. Kampung Tua Petak Sembilan, Glodok – Jakarta
Di tengah hiruk pikuk Jakarta, kawasan Petak Sembilan adalah salah satu saksi hidup akulturasi budaya Peranakan. Terdapat kelenteng tertua di Jakarta, Vihara Dharma Bhakti, serta toko-toko yang menjual jamu Tionghoa, dupa, dan pernak-pernik khas budaya Peranakan.
Menjelajahi tempat-tempat wisata budaya Peranakan bukan hanya perjalanan fisik, tapi juga perjalanan batin menelusuri akar sejarah Indonesia yang beragam. Dari Lasem hingga Singkawang, dari kebaya hingga kue keranjang, warisan Peranakan hidup dalam denyut kota-kota ini.